Kekayaan Produk iB Perbankan Syariah

iB logoPerkembangan perbankan syariah dewasa ini sangat menggembirakan, ditandai dengan banyaknya bank syariah yang beroperasi, baik itu Bank Umum Syariah (bank syariah yang berdiri sendiri) maupun Unit Usaha Syariah (bank syariah yang masih berada di bawah manajemen bank konvensional). Saat ini masyarakat sudah memperlihatkan antusiasme yang baik terhadap perbankan syariah. Pada umumnya mereka ingin mengetahui perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional yang sudah lama mereka kenal, produk dan layanan apa saja yang diberikan bank syariah, dan keuntungan apa yang bisa mereka peroleh sehingga bisa membuat mereka tertarik untuk menggunakan produk bank syariah bahkan mungkin beralih total dari bank konvensional ke bank syariah.
Banyak sekali produk dan jasa perbankan syariah yang bisa dipilih oleh masyarakat. Para praktisi perbankan syariah harus bisa menjelaskan dan membantu nasabah dalam memilih produk yang cocok dengan kebutuhan mereka. Produk syariah memiliki ketentuan yang berbeda dengan produk bank konvensional. Ketentuan itu harus dipatuhi agar selalu berada di jalur syariah.
Secara garis besar produk-produk perbankan syariah dibagi menjadi 3 bagian, yaitu penghimpunan dana, pembiayaan, dan jasa perbankan.

Dari sisi penghimpunan dana (funding) :
Wadiah
Penitipan dana nasabah kepada bank. Bank berhak menggunkan dana tersebut dan wajib menggantinya apabila sewaktu-waktu ditarik oleh nasabah. Bank boleh memberikan bonus kepada nasabah dengan syarat tidak ada perjanjian di muka.
Contoh : tabungan, giro
Mudharabah
Penanaman modal oleh nasabah agar dikelola oleh bank untuk melakukan kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati bersama antara nasabah dengan pihak bank.
Contoh : deposito

Dari sisi pembiayaan (financing) :
a. Dengan prinsip jual beli
Murabahah
Perjanjian jual beli barang antara nasabah dan pihak bank dengan menyatakan harga pokok barang (harga beli oleh bank) dan margin (keuntungan) yang disepakati bersama
Contoh : pembiayaan usaha kecil menengah, kredit kepemilikan kendaraan bermotor, kredit konsumer lainnya
Istishna
Perjanjian jual beli dalam bentuk pemesanan barang dengan kriteria tertentu antara pemesan (nasabah) dengan penjual (bank). Pembayaran dilakuan secara bertahap.
Contoh : kredit kepemilikan rumah, pembiayaan konstruksi
Salam
Sama seperti istishna, hanya pembayaran dilakukan dimuka (tunai) oleh nasabah.
Contoh : jual beli ijon
b. Dengn prinsip upah (ujroh /fee based)
Ijaroh (sewa menyewa)
Bank menyewakan objek sewa yang dimiliki oleh bank atau menyewa dari pihak lain untuk kepentingan nasabah, dan bank mendapatkan imbalan jasa (fee) dari penyewaan tersebut.
Contoh : penyewaan gedung, save deposit box
Ijaroh Munthawiyah Bit Tamlik
(sewa beli)
Ijaroh yang berakhir dengan perpindahan kepemilikan dari bank kepada nasabah
Contoh : sewa beli gedung, ruko, taksi
c. Dengan prinsip bagi hasil
Mudharabah
Kerjasama antara pemilik modal (bank) dengan pengelola dana (nasabah) untuk memperoleh keuntungan dengan pembagian yang sesuai dengan nisbah yang disepakati
Contoh : pembiayaan modal kerja
Musyarakah
Kerja sama antara para pemilik modal (bank dan nasabah) untuk mencapurkan dana mereka pada suatu usaha tertentu dengan pembagian keuntungan sesuai denan nisbah yang telah disepakati
Contoh : pembiayaan bisnis investasi joint venture

Jasa perbankan lainnya :
Qardh : dana talangan
Hawalah : pengalihan hutang, L/C impor
Wakalah : pemberian kuasa transfer, inkaso, kliring, pengelolaan ZIS (zakat, infaq, dan shodaqoh) dan wakaf, penghimpun dana haji
Kafalah : bank garansi, L/C
Sharf : valuta asing
Rahn : gadai

Contoh kasus produk pembiayaan Murabahah:

Ahmad ingin memiliki sepeda motor. Dia mengajukan kredit pembiayaan sepeda motor ke salah satu bank syariah. Dalam hal ini bank membelikan Ahmad sepeda motor dengan harga beli dari dealer sepeda motor yang harus disebutkan dalam akad, misal Rp 15.000.000 dan margin (keuntungan bank) yang ditentukan oleh bank sebesar 40,3500%, bila dinominalkan sebesar Rp 6.052.500. Jadi bank menjual sepeda motor tersebut kepada Ahmad sebesar Rp 21.052.500. Ahmad akan membayarnya dalam jangka waktu 5 tahun atau Rp 350.875 per bulan, tidak ada perubahan angsuran sampai dengan pembayaran berakhir. Bedanya dengan pembiayaan di bank konvensional adalah jumlah angsuran yang tetap dari awal sampai dengan akhir pembayaran, tidak mengikuti perubahan suku bunga yang fluktuatif seperti di bank konvensional.

Contoh kasus produk pembiayaan Mudharabah :

Pak Ngadino ingin membuka usaha ternak ayam, namun tidak memiliki modal. Beliau mengajukan pembiayaan modal kerja dengan sistem bagi hasil kepada sebuah bank syariah. Misalkan dana yang diberikan bank untuk dikelola oleh Pak Ngadino adalah sebesar Rp 12.000.000. Nisbah bagi hasil yang disepakati adalah 70: 30, 70% untuk Pak Ngadino, 30% untuk Bank. Pembiayaan tersebut mengambil jangka waktu 1 tahun. Jumlah angsuran kepada bank adalah pokok angsuran + 30% keuntungan. Pokok yang harus dibayar per bulan adalah Rp 1.000.000. Seandainya pada bulan pertama keuntungan yang diperoleh adalah sebesar Rp 3.000.000, maka 70% atau Rp 2.100.000 masuk ke kantong Pak Ngadino, 30% atau Rp 900.000 harus diberikan ke Bank. Jadi pada bulan pertama Pak Ngadino wajib membayar angsuran sebesar Rp 1.900.000.
Apabila dalam bulan berikutnya usaha Pak Ngadino mengalami penurunan, misalnya hanya mendapatkan keuntungan 500.000, maka angsuran ke Bank pun tidak sebanyak bulan pertama, yaitu sebesar 1.150.000.
Kalau di bank konvensional, persen bunga yang diberikan fluktuatif berdasarkan suku bunga yang cenderung naik. Jadi nasabah diwajibkan membayar angsuran tersebut, tanpa mempedulikan apakah usaha nasabah mengalami keuntungan atau kerugian.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa produk-produk perbankan syariah menawarkan keuntungan lebih kepada masyarakat. Sesuai dengan prinsip syariah itu sendiri yang dimana kegiatan di dalamnya tidak boleh mengandung unsur spekulasi, tidak jelas, riba, merugikan orang lain, dan tidak halal. Berbagai produk dan layanan yang ditawarkan semakin menguatkan fungsi bank syariah sebagai penghimpun dana, penyalur dana, penjamin jasa bank, dan perwakilan pengelolaan kegiatan bisnis dan sosial. Jadi untuk apa ragu beralih ke bank syariah, insya Allah berkah.

~ by aftiabdullah on August 18, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: